Dalam dunia bisnis, pengelolaan persediaan atau inventory control menjadi faktor krusial yang menentukan kelancaran operasional dan profitabilitas perusahaan. Inventory control mengacu pada proses perencanaan, pengawasan, dan pengelolaan stok barang agar tetap tersedia dalam jumlah yang tepat tanpa kelebihan atau kekurangan. Dengan sistem kontrol persediaan yang baik, perusahaan dapat mengoptimalkan biaya operasional dan memastikan kepuasan pelanggan tetap terjaga.
Pentingnya pengelolaan persediaan dalam bisnis tidak bisa diabaikan. Perusahaan yang memiliki manajemen inventaris yang baik dapat menghindari pemborosan, mempercepat proses produksi, serta meningkatkan efisiensi distribusi barang. Sebaliknya, jika inventory control tidak dikelola dengan baik, berbagai masalah bisa timbul, seperti penumpukan stok yang berlebihan, kekurangan barang yang menghambat operasional, hingga meningkatnya biaya penyimpanan yang tidak perlu.
Dampak buruk dari inventory control yang tidak efektif dapat berujung pada penurunan keuntungan dan reputasi bisnis. Stok barang yang terlalu banyak dapat menyebabkan pemborosan modal dan risiko barang rusak atau kedaluwarsa. Sebaliknya, jika stok terlalu sedikit, perusahaan bisa kehilangan peluang penjualan akibat keterlambatan pemenuhan permintaan pelanggan. Oleh karena itu, memahami dan menerapkan inventory control yang efektif sangat penting bagi setiap bisnis agar tetap kompetitif dan berkelanjutan.
Pengertian Inventory Control
Inventory control adalah proses pengelolaan dan pengawasan persediaan barang yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan stok. Dengan kata lain, inventory control membantu perusahaan memastikan bahwa jumlah barang yang tersedia tidak berlebihan atau kekurangan, sehingga operasional bisnis dapat berjalan dengan lancar dan efisien.
Tujuan Utama Inventory Control
- Mengoptimalkan Manajemen Persediaan – Memastikan stok yang tersedia sesuai dengan kebutuhan tanpa mengalami kelebihan atau kekurangan.
- Mengurangi Biaya Penyimpanan – Dengan kontrol yang tepat, perusahaan dapat menghindari biaya tambahan akibat penumpukan stok yang tidak perlu.
- Meningkatkan Efisiensi Operasional – Mempercepat alur distribusi barang dan mengurangi waktu tunggu dalam proses pemenuhan pesanan.
- Meminimalkan Risiko Kehilangan dan Kerusakan Barang – Dengan sistem inventory control yang baik, risiko barang rusak, hilang, atau kadaluwarsa dapat diminimalkan.
- Meningkatkan Kepuasan Pelanggan – Dengan stok yang selalu tersedia, pelanggan mendapatkan layanan yang lebih baik, meningkatkan loyalitas dan kepercayaan terhadap bisnis.
Perbedaan Inventory Control dan Inventory Management
Meskipun sering digunakan secara bergantian, inventory control dan inventory management memiliki perbedaan mendasar:
- Inventory Control berfokus pada pemantauan dan pengelolaan stok yang tersedia di gudang agar selalu dalam jumlah yang tepat. Ini mencakup pengaturan titik pemesanan ulang (reorder point), sistem penyimpanan barang, dan strategi untuk menghindari kelebihan atau kekurangan stok.
- Inventory Management adalah konsep yang lebih luas, mencakup seluruh proses manajemen inventaris mulai dari perencanaan pengadaan barang, pemantauan pergerakan stok, hingga analisis tren pasar dan prediksi kebutuhan di masa depan.
Manfaat Inventory Control dalam Perusahaan
Inventory control memberikan berbagai manfaat bagi perusahaan, baik dalam skala kecil maupun besar. Berikut beberapa manfaat utama yang bisa diperoleh:
- Efisiensi Operasional – Dengan pengelolaan stok yang tepat, perusahaan dapat mengurangi waktu tunggu dalam proses produksi dan distribusi barang.
- Pengurangan Biaya Penyimpanan – Stok yang terkendali mencegah pemborosan ruang gudang serta biaya penyimpanan yang tidak perlu.
- Mengoptimalkan Perputaran Barang – Barang dapat bergerak sesuai dengan permintaan pasar, mengurangi risiko stok mati (dead stock) atau barang kedaluwarsa.
- Mencegah Kekurangan Stok – Dengan sistem yang baik, perusahaan dapat mengantisipasi permintaan pasar dan menjaga ketersediaan barang sesuai kebutuhan.
- Meningkatkan Kepuasan Pelanggan – Ketersediaan barang yang selalu terjaga membuat pelanggan lebih puas dan meningkatkan loyalitas mereka terhadap perusahaan.
Metode Inventory Control yang Umum Digunakan

Terdapat beberapa metode inventory control yang umum diterapkan dalam bisnis untuk memastikan stok barang tetap optimal. Berikut adalah beberapa metode yang paling efektif:
Just-In-Time (JIT)
Metode JIT memungkinkan perusahaan untuk hanya memproduksi atau menerima barang saat dibutuhkan, sehingga mengurangi biaya penyimpanan dan risiko stok berlebih. Sistem ini meningkatkan efisiensi operasional, tetapi membutuhkan koordinasi yang baik dengan pemasok untuk memastikan bahan baku selalu tersedia tepat waktu.
Contoh:
Sebuah restoran sushi yang hanya mulai menyiapkan sushi saat pelanggan memesan. Mereka tidak menyimpan banyak ikan segar di lemari pendingin karena bahan tersebut harus selalu dalam kondisi terbaik. Oleh karena itu, restoran bekerja sama dengan pemasok ikan untuk mengirimkan bahan setiap pagi sesuai kebutuhan hari itu. Dengan cara ini, mereka menghindari pemborosan bahan yang bisa basi dan juga menghemat biaya penyimpanan.
ABC Analysis
ABC Analysis mengklasifikasikan stok berdasarkan nilai dan frekuensi transaksi. Kategori A mencakup barang dengan nilai tinggi dan perputaran rendah, kategori B adalah barang dengan nilai menengah dan perputaran sedang, sementara kategori C mencakup barang dengan nilai rendah tetapi memiliki perputaran tinggi. Dengan metode ini, perusahaan dapat memprioritaskan pengelolaan stok yang paling berpengaruh pada profitabilitas.
Contoh:
Sebuah toko elektronik memiliki berbagai macam produk, dari smartphone hingga kabel charger. Mereka membagi stok menjadi tiga kategori:
- Kategori A: Smartphone mahal yang jarang dibeli, tetapi memiliki nilai tinggi.
- Kategori B: Tablet dan aksesori premium yang memiliki harga menengah dan perputaran sedang.
- Kategori C: Kabel charger murah yang sering dibeli pelanggan setiap hari.
Dengan sistem ini, toko lebih fokus mengelola stok smartphone dengan ketat karena nilainya besar, sementara kabel charger bisa dipesan dalam jumlah banyak karena perputarannya tinggi.
Economic Order Quantity (EOQ).
EOQ adalah metode yang menentukan jumlah pemesanan optimal untuk meminimalkan biaya pemesanan dan penyimpanan. Dengan menghitung EOQ, perusahaan dapat menghindari kelebihan atau kekurangan stok yang bisa memengaruhi operasional dan keuntungan.
Rumus EOQ

Di mana:
- D = Permintaan tahunan (unit per tahun)
- S = Biaya pemesanan per order (cost per order)
- H = Biaya penyimpanan per unit per tahun (holding cost per unit per year)
Contoh:
Sebuah perusahaan percetakan membutuhkan 12.000 rim kertas per tahun untuk mencetak buku dan brosur. Perusahaan ingin mengetahui berapa jumlah rim kertas yang optimal untuk dipesan dalam setiap order agar bisa mengurangi biaya pemesanan dan penyimpanan.
Diketahui:
- D = 12.000 rim kertas per tahun
- S = Rp50.000 per order (biaya administrasi, ongkir, dll.)
- H = Rp10.000 per rim per tahun (biaya gudang, keamanan, dan risiko kerusakan)
Hitung EOQ:

Interpretasi Hasil:
- Perusahaan sebaiknya memesan 346 rim kertas setiap kali order agar biaya pemesanan dan penyimpanan tetap optimal.
- Jika mereka memesan lebih sedikit dari 346 rim, maka terlalu sering melakukan pemesanan yang menyebabkan biaya pemesanan meningkat.
- Jika mereka memesan terlalu banyak dalam satu waktu, biaya penyimpanan menjadi lebih besar karena perlu ruang penyimpanan lebih luas.
- Dengan metode EOQ, perusahaan menyeimbangkan biaya pemesanan dan penyimpanan, sehingga stok tetap cukup tanpa pemborosan biaya.
Jadi, perusahaan sebaiknya memesan 346 rim kertas setiap kali restock agar biaya operasional tetap efisien. Dengan cara ini, stok kertas tetap tersedia tanpa menyebabkan biaya pemesanan atau penyimpanan yang berlebihan.
Safety Stock & Reorder Point
Safety stock adalah stok cadangan yang disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan atau keterlambatan pasokan. Sementara itu, reorder point adalah titik pemesanan ulang yang ditentukan berdasarkan tingkat konsumsi barang dan waktu tunggu pengiriman dari pemasok. Dengan metode ini, perusahaan dapat menghindari kekurangan stok yang berpotensi menghambat operasional bisnis.
Contoh:
Sebuah minimarket menjual susu dalam kemasan kotak. Rata-rata mereka menjual 10 kotak per hari, dan pemasok membutuhkan 3 hari untuk mengirim ulang stok. Untuk menghindari kehabisan, minimarket menetapkan reorder point pada 30 kotak (karena 10 kotak × 3 hari). Selain itu, mereka menyimpan safety stock sebanyak 10 kotak untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba ada lonjakan permintaan atau keterlambatan pengiriman.
Dengan menerapkan metode inventory control yang tepat, perusahaan dapat menjaga keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan stok, mengoptimalkan biaya, dan memastikan kelancaran operasional bisnis.
Kesimpulan
Inventory control adalah elemen penting dalam pengelolaan bisnis yang tidak boleh diabaikan. Dengan sistem yang efektif, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan memastikan operasional berjalan lancar. Untuk meningkatkan pengelolaan inventaris, perusahaan disarankan untuk menerapkan metode kontrol yang sesuai dengan kebutuhan bisnis, memanfaatkan teknologi modern seperti software inventory management, serta melakukan evaluasi berkala terhadap sistem yang digunakan.
Jika Anda ingin mulai menerapkan sistem inventory control yang lebih baik atau membutuhkan konsultasi lebih lanjut, hubungi Balancio Indo untuk solusi terbaik dalam pengelolaan inventaris bisnis Anda.