Bergabung sebagai mitra franchise makanan terasa menjanjikan karena brand sudah dikenal, sistem sudah tersedia, dan pelanggan tidak perlu dibangun dari awal. Tapi satu hal yang sering luput dari perhatian mitra baru adalah cara pembukuan usaha franchise makanan yang benar. Franchise bukan sekadar “beli hak pakai nama”, melainkan hubungan bisnis dengan kewajiban keuangan yang kompleks, mulai dari franchise fee awal, royalti bulanan, pembelian bahan baku dari pusat, hingga laporan keuangan yang harus dilaporkan ke franchisor.
Jika pembukuan tidak ditata dari awal, mitra bisa kehilangan kontrol atas arus kas, salah menghitung keuntungan, bahkan bermasalah saat audit dari franchisor. Artikel ini memandu Anda dari konsep dasar hingga jurnal praktis untuk setiap jenis transaksi khas franchise makanan.
Memahami Struktur Keuangan Franchise Makanan
Sebelum bicara cara pencatatan, penting memahami bahwa bisnis franchise makanan memiliki beberapa lapisan biaya yang tidak ada di bisnis konvensional biasa.
Franchise Fee
Biaya awal yang dibayarkan saat Anda menandatangani perjanjian franchise, sebagai pembayaran atas hak menggunakan merek, sistem, dan dukungan franchisor.
Royalty Fee
Pembayaran berkala (umumnya bulanan) yang dihitung berdasarkan persentase dari omzet atau pendapatan bersih.
Pembelian Bahan Baku dari Pusat
Banyak franchise mewajibkan mitra membeli bahan baku, kemasan, atau produk jadi langsung dari franchisor atau pemasok yang ditunjuk dengan harga yang sudah ditetapkan.
Ketiga komponen ini harus dicatat secara terpisah dalam pembukuan agar laporan keuangan mencerminkan kondisi bisnis yang akurat.
Mencatat Franchise Fee Awal

Franchise fee yang dibayarkan di awal perjanjian tidak boleh langsung dimasukkan sebagai beban dalam satu periode. Ini adalah aset tidak berwujud yang diamortisasi sepanjang masa perjanjian franchise. Misalnya, jika franchise fee Anda Rp30.000.000 untuk jangka 3 tahun, maka beban amortisasi per bulan adalah Rp30.000.000 / 36 bulan = Rp833.333.
Jurnal Pembayaran Franchise Fee Awal
| Akun | Debit | Kredit |
| Franchise Fee (Aset Tidak Berwujud) | Rp30.000.000 | |
| Kas / Bank | Rp30.000.000 |
Jurnal Amortisasi Bulanan
| Akun | Debit | Kredit |
| Beban Amortisasi Franchise Fee | Rp833.333 | |
| Akumulasi Amortisasi Franchise Fee | Rp833.333 |
Mencatat Royalty Fee Bulanan
Royalty fee dicatat sebagai beban operasional pada periode yang sama dengan omzet yang menjadi dasar perhitungannya. Jika royalti ditetapkan sebesar 5% dari omzet bersih, dan omzet bulan ini Rp80.000.000, maka royalti terutang adalah Rp4.000.000.
Jurnal Pengakuan Royalti Terutang
| Akun | Debit | Kredit |
| Beban Royalti | Rp4.000.000 | |
| Utang Royalti | Rp4.000.000 |
Jurnal Pembayaran Royalti
| Akun | Debit | Kredit |
| Utang Royalti | Rp4.000.000 | |
| Kas / Bank | Rp4.000.000 |
Penting: catat royalti sebagai beban di bulan yang sama dengan periode omzetnya, bukan di bulan saat dibayar, agar laporan laba rugi mencerminkan biaya yang tepat secara akrual.
Mencatat Pembelian Bahan Baku dari Pusat
Ini adalah salah satu transaksi paling sering terjadi dalam cara pembukuan usaha franchise makanan. Pembelian bahan baku dari pusat atau supplier yang ditunjuk franchisor diperlakukan sama dengan pembelian bahan baku biasa, yaitu masuk ke akun persediaan bahan baku terlebih dahulu, lalu berpindah ke HPP saat bahan digunakan.
Jurnal Pembelian Bahan Baku dari Pusat
| Akun | Debit | Kredit |
| Persediaan Bahan Baku | Rp15.000.000 | |
| Utang Dagang (Pusat Franchise) | Rp15.000.000 |
Jurnal Pemakaian Bahan Baku
| Akun | Debit | Kredit |
| HPP (Biaya Bahan Baku) | Rp10.000.000 | |
| Persediaan Bahan Baku | Rp10.000.000 |
Struktur Akun yang Direkomendasikan
Untuk mempermudah cara pembukuan usaha franchise makanan, susun Chart of Accounts yang spesifik.
| Kode Akun | Nama Akun | Tipe |
| 1110 | Kas / Bank | Aset |
| 1200 | Persediaan Bahan Baku | Aset |
| 1410 | Franchise Fee (neto amortisasi) | Aset Tidak Berwujud |
| 2110 | Utang Dagang Pusat | Kewajiban |
| 2120 | Utang Royalti | Kewajiban |
| 4100 | Pendapatan Penjualan | Pendapatan |
| 5100 | HPP Bahan Baku | Beban |
| 6110 | Beban Royalti | Beban |
| 6120 | Beban Amortisasi Franchise Fee | Beban |
| 6130 | Beban Operasional Lainnya | Beban |
Rekonsiliasi Bulanan dengan Laporan Franchisor
Salah satu keunikan bisnis franchise adalah kewajiban pelaporan ke franchisor. Setiap bulan, mitra biasanya harus melaporkan omzet yang menjadi dasar perhitungan royalti. Pastikan angka omzet yang Anda laporkan ke franchisor sama persis dengan yang tercatat di buku Anda. Perbedaan bisa memicu audit dan pertanyaan yang tidak perlu.
Lakukan rekonsiliasi setiap akhir bulan dengan membandingkan laporan penjualan kasir dengan laporan yang dikirimkan ke pusat, serta pastikan saldo utang royalti dan utang dagang ke pusat sudah sesuai.
Mengelola Arus Kas Franchise Makanan
Arus kas franchise makanan memiliki ritme yang khas, yaitu ada pengeluaran besar di awal (franchise fee, renovasi, peralatan), pengeluaran rutin bulanan (bahan dari pusat, royalti), dan pendapatan dari penjualan harian. Buat proyeksi arus kas minimal 3 bulan ke depan agar Anda tahu kapan kas akan ketat dan bisa menyiapkan dana cadangan sebelumnya.
Kesimpulan
Cara pembukuan usaha franchise makanan yang tertib dimulai dari pemahaman atas tiga komponen keuangan utama, yaitu franchise fee yang diamortisasi, royalti yang dicatat secara akrual, dan pembelian bahan dari pusat yang dikelola sebagai persediaan. Ketiganya harus masuk ke akun yang tepat agar laporan keuangan mencerminkan kondisi bisnis yang sesungguhnya, bukan sekadar perkiraan.
Balancio Indo memiliki pengalaman mendampingi mitra franchise dalam menyiapkan sistem pembukuan yang sesuai dengan standar pelaporan franchisor sekaligus tertib untuk keperluan pajak. Mulai dari penyusunan chart of accounts, template jurnal bulanan, hingga laporan keuangan siap audit, semuanya bisa kami bantu. Hubungi Balancio Indo di www.balancioindo.com dan mulai kelola keuangan franchise Anda dengan lebih profesional.






