Cara Mencatat Pembayaran Termin Proyek, Uang Muka, dan Retensi

Cara Mencatat Pembayaran Termin Proyek, Uang Muka, dan Retensi

Cara mencatat pembayaran termin proyek adalah memisahkan pengakuan pendapatan, penerbitan tagihan, pengurang uang muka, retensi, dan penerimaan bank. Tagihan progres menunjukkan jumlah yang ditagihkan sesuai kontrak. Kas masuk melunasi piutang yang terkait, sedangkan waktu pengakuan pendapatan mengikuti standar akuntansi dan substansi pekerjaan yang berlaku.

Panduan ini memakai sudut pandang kontraktor atau penyedia jasa yang menerima pembayaran dari pemilik proyek. Jika Anda berada di pihak pemilik proyek, akun utang, uang muka pemasok, dan biaya atau aset proyek memerlukan pencatatan yang berbeda.

Tentukan standar sebelum memilih jurnal

UMKM tidak otomatis wajib memakai satu kerangka akuntansi yang sama. Untuk entitas yang menerapkan SAK EMKM, Bab 14.5 memuat ketentuan khusus kontrak konstruksi berdasarkan tagihan; uang muka sebelum aktivitas kontrak dimulai tetap mengikuti ketentuan liabilitas. Baca ketentuan SAK EMKM Bab 14.

Untuk entitas yang menerapkan PSAK 115, pendapatan mengikuti pemenuhan kewajiban pelaksanaan. Pengakuan sepanjang waktu memerlukan pemenuhan kriteria; tidak cukup karena kontrak menggunakan termin. PSAK 115 sebelumnya bernomor PSAK 72, sebagaimana daftar perubahan nomor dari IAI. Rujukan konsepnya tersedia pada IFRS 15.

SAK Entitas Privat merupakan kerangka lain dengan ketentuannya sendiri dan berlaku efektif sejak 1 Januari 2025. Karena itu, identifikasi standar perusahaan sebelum menyalin contoh. Lihat penjelasan SAK Entitas Privat dari IAI.

Siapkan register kontrak dan termin

Satu register proyek perlu mencatat nilai kontrak awal, perubahan yang disetujui, uang muka diterima, progres yang disetujui, tagihan periode ini, pengurang uang muka, retensi, pajak yang relevan, penerimaan, serta sisa saldo. Gunakan kode proyek yang sama pada jurnal dan dokumen operasional.

Dokumen pendukung meliputi kontrak atau SPK, jadwal pembayaran, berita acara progres, berita acara serah terima bila relevan, invoice, bukti potong, dan mutasi bank. Persentase progres fisik, persentase penagihan, dan persentase penerimaan kas dapat berbeda; simpan sebagai ukuran terpisah.

Contoh kontrak Rp100 juta dengan dua termin

Asumsi ilustrasi: nilai kontrak Rp100.000.000; uang muka Rp20.000.000; tagihan progres pertama Rp40.000.000; tagihan kedua Rp60.000.000. Uang muka dipulihkan sebesar 20% dari setiap tagihan progres. Retensi sebesar 5% dari nilai progres ditahan. Persentase tersebut merupakan contoh kontrak, bukan tarif yang berlaku untuk seluruh proyek.

Contoh jurnal memakai kondisi pendapatan yang layak diakui sama dengan nilai progres pada saat penagihan. Untuk menyederhanakan contoh, hak retensi diasumsikan sudah tidak bersyarat dan hanya menunggu tanggal pembayaran. Tidak terdapat PPN, PPh, bunga pembiayaan, atau perubahan kontrak. Kasus retensi yang masih bersyarat dibahas pada jurnal piutang retensi proyek.

KomponenTermin 1Termin 2Total
Nilai progres periodeRp40.000.000Rp60.000.000Rp100.000.000
Pengurang uang mukaRp8.000.000Rp12.000.000Rp20.000.000
Retensi ditahanRp2.000.000Rp3.000.000Rp5.000.000
Kas dari pembayaran terminRp30.000.000Rp45.000.000Rp75.000.000

Rumus kas termin dalam contoh adalah nilai progres dikurangi pemulihan uang muka dan retensi. Jika terdapat pemotongan pajak atau koreksi lain, tambahkan rekonsiliasi terpisah agar kas bersih tetap dapat ditelusuri ke tagihan bruto.

Jurnal uang muka dan termin pertama

Saat uang muka diterima: debit Bank Rp20.000.000 dan kredit Uang muka pelanggan/liabilitas kontrak Rp20.000.000. Tahap ini belum menimbulkan pendapatan dalam asumsi contoh. Lihat juga cara mencatat penerimaan uang muka proyek.

Saat pendapatan dan tagihan progres pertama memenuhi dasar pengakuan, gunakan jurnal majemuk berikut.

AkunDebitKredit
Piutang terminRp32.000.000—
Uang muka pelanggan/liabilitas kontrakRp8.000.000—
Pendapatan proyek—Rp40.000.000

Selanjutnya pisahkan retensi: debit Piutang retensi Rp2.000.000 dan kredit Piutang termin Rp2.000.000. Piutang termin yang dapat dibayar saat ini menjadi Rp30.000.000.

Ketika termin diterima, debit Bank Rp30.000.000 dan kredit Piutang termin Rp30.000.000. Setelahnya, piutang termin pertama nol, piutang retensi Rp2.000.000, dan sisa uang muka pelanggan Rp12.000.000. Pengurang uang muka mengurangi liabilitas, bukan mengurangi pendapatan yang memang telah diperoleh.

Jurnal termin kedua dan pemeriksaan saldo akhir

Pada pengakuan termin kedua, debit Piutang termin Rp48.000.000, debit Uang muka pelanggan Rp12.000.000, dan kredit Pendapatan proyek Rp60.000.000. Pisahkan retensi kedua dengan debit Piutang retensi Rp3.000.000 dan kredit Piutang termin Rp3.000.000. Saat pembayaran diterima, debit Bank dan kredit Piutang termin masing-masing Rp45.000.000.

Posisi setelah kedua termin dibayar, sebelum retensi cair:

  • Pendapatan kumulatif: Rp100.000.000.
  • Kas kumulatif: uang muka Rp20.000.000 ditambah termin Rp75.000.000 = Rp95.000.000.
  • Piutang retensi: Rp5.000.000.
  • Piutang termin reguler: Rp0.
  • Uang muka pelanggan yang belum dipulihkan: Rp0.

Dalam kondisi sederhana ini, kas Rp95.000.000 ditambah retensi Rp5.000.000 sama dengan pendapatan Rp100.000.000. Hubungan tersebut bukan rumus universal untuk proyek yang memiliki pajak, liabilitas kontrak tersisa, aset kontrak, atau penurunan nilai.

Jika progres pendapatan berbeda dari tagihan

Pada penerapan PSAK 115, pekerjaan yang sudah menghasilkan pendapatan tetapi hak tagihnya masih bersyarat dapat menimbulkan aset kontrak. Misalnya pendapatan Rp40.000.000 telah memenuhi kriteria, tetapi haknya masih bergantung pada pencapaian tahap berikutnya. Pencatatan awal dapat berupa debit Aset kontrak dan kredit Pendapatan proyek Rp40.000.000. Ketika hak Rp30.000.000 menjadi tidak bersyarat, reklasifikasikan bagian tersebut ke piutang tanpa mencatat pendapatan lagi.

Sebaliknya, uang atau tagihan yang mendahului pelaksanaan dapat menghasilkan liabilitas kontrak. Ketika pekerjaan dilakukan dan pendapatan diakui, liabilitas tersebut berkurang. Penilaian ini memerlukan pembacaan kontrak; nomor invoice sendiri tidak menentukan apakah hak sudah tidak bersyarat. Pembedaan aset kontrak dan piutang dirumuskan dalam IFRS 15 paragraf 105–108.

Kesalahan yang perlu dicegah

Jangan mengakui uang muka dan seluruh tagihan sebagai pendapatan sehingga omzet menjadi dua kali. Jangan memakai kas bersih sebagai pendapatan tanpa memisahkan retensi dan pengurang uang muka. Hindari pula mencatat progres kumulatif sebagai pendapatan tambahan setiap bulan; kurangi bagian yang sudah diakui pada periode sebelumnya.

Setiap akhir bulan, rekonsiliasikan pendapatan, tagihan, piutang, uang muka, dan retensi per proyek. Cocokkan biaya terkait, termasuk biaya subkontraktor, agar margin tidak hanya mencerminkan kecepatan penagihan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah semua proyek menggunakan metode persentase penyelesaian?

Tidak. Pengakuan pendapatan bergantung pada standar dan karakter kontrak. Jadwal termin saja tidak cukup untuk menetapkan metode pengakuan.

Bagaimana jika pelanggan membayar termin sebagian?

Debit bank dan kredit piutang sesuai penerimaan yang dialokasikan. Sisanya tetap menjadi piutang. Periksa pemotongan pajak atau biaya lain sebelum menyimpulkan terjadi kekurangan pembayaran.

Apakah uang muka yang dipotong kembali merupakan biaya?

Tidak dalam contoh ini. Pemulihan uang muka mengurangi liabilitas pelanggan karena sebagian hak tagih telah dibayar lebih awal.

Gunakan panduan laporan keuangan per proyek untuk menggabungkan register termin, biaya, dan margin. Jika saldo proyek sulit direkonsiliasi, diskusikan penataan pembukuannya dengan Balancio Indo.

Ditulis oleh

admin

Butuh bantuan menyusun strategi keuangan bisnis Anda?

Start a Consultation