Panduan Lengkap Cara Mencatat Piutang Tak Tertagih dengan Dua Metode Akuntansi

Panduan Lengkap Cara Mencatat Piutang Tak Tertagih dengan Dua Metode Akuntansi

Piutang yang tidak dibayar oleh pelanggan adalah risiko yang selalu ada dalam bisnis yang memberikan penjualan kredit. Ketika pelanggan gagal membayar utangnya meskipun sudah melewati batas waktu yang wajar, piutang tersebut berubah menjadi beban yang harus dicatat dalam laporan keuangan. Tanpa pencatatan yang tepat, nilai piutang di neraca akan menjadi overstatement dan tidak mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya.

Banyak pemilik bisnis yang bingung bagaimana cara mencatat piutang tak tertagih dengan benar. Apakah piutang harus dihapus langsung saat dinyatakan macet atau harus disiapkan cadangan sejak awal? Bagaimana pencatatan jurnalnya? Dan apa yang terjadi jika piutang yang sudah dihapus ternyata dibayar kembali? Semua pertanyaan ini penting untuk dipahami agar laporan keuangan tetap akurat dan sesuai dengan prinsip akuntansi.

Artikel ini akan membahas cara mencatat piutang tak tertagih secara lengkap dengan dua metode yang digunakan dalam akuntansi yaitu metode penghapusan langsung dan metode cadangan. Anda akan memahami perbedaan keduanya, kapan menggunakan masing-masing metode, dan bagaimana membuat jurnal untuk setiap kondisi yang mungkin terjadi.

Apa Itu Piutang Tak Tertagih

Piutang tak tertagih atau bad debt adalah piutang usaha yang tidak dapat ditagih lagi karena pelanggan tidak mampu atau tidak bersedia membayar utangnya. Piutang ini dianggap sebagai kerugian bagi perusahaan karena uang yang seharusnya diterima tidak akan masuk ke kas.

Piutang menjadi tak tertagih bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti pelanggan mengalami kebangkrutan, pelanggan tidak dapat dihubungi atau melarikan diri, adanya sengketa bisnis yang tidak dapat diselesaikan, atau tidak ada bukti yang cukup untuk menagih secara hukum. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan harus mengakui bahwa piutang tersebut telah menjadi kerugian dan mencatatnya dalam pembukuan.

Piutang tak tertagih adalah bagian normal dari bisnis yang memberikan tempo pembayaran kepada pelanggan. Tidak semua pelanggan akan membayar tepat waktu dan tidak semua piutang akan berhasil ditagih. Oleh karena itu, perusahaan perlu memiliki sistem pencatatan yang jelas untuk mengelola piutang yang tidak tertagih ini agar laporan keuangan tetap mencerminkan kondisi yang sebenarnya.

Kriteria Piutang Dianggap Tak Tertagih

Tidak semua piutang yang terlambat dibayar langsung dianggap sebagai piutang tak tertagih. Ada beberapa kriteria yang biasanya digunakan untuk menentukan apakah piutang sudah layak dihapuskan atau belum.

Sudah Melewati Jatuh Tempo dalam Waktu Lama

Piutang yang sudah lewat jatuh tempo lebih dari 90 hari atau bahkan 180 hari biasanya sudah masuk kategori berisiko tinggi. Semakin lama piutang tidak dibayar, semakin besar kemungkinan piutang tersebut tidak akan tertagih.

Pelanggan Dinyatakan Bangkrut atau Pailit

Jika pelanggan secara resmi dinyatakan bangkrut atau pailit oleh pengadilan, piutang kepada pelanggan tersebut hampir pasti tidak akan tertagih. Dalam kondisi ini, perusahaan dapat segera menghapus piutang tersebut dari pembukuan.

Pelanggan Tidak Dapat Dihubungi

Jika pelanggan tidak dapat dihubungi melalui berbagai cara seperti telepon, email, atau kunjungan langsung, dan tidak ada tanda-tanda pelanggan akan membayar, piutang ini dapat dikategorikan sebagai tak tertagih.

Upaya Penagihan Maksimal Sudah Dilakukan

Perusahaan sudah melakukan berbagai upaya penagihan seperti mengirim surat peringatan, menelepon berulang kali, melakukan kunjungan langsung, bahkan menggunakan jasa debt collector tetapi tetap tidak berhasil. Dalam kondisi ini, piutang dapat dihapuskan.

Biaya Penagihan Lebih Besar dari Nilai Piutang

Jika biaya untuk menagih piutang lebih besar dari nilai piutang itu sendiri, maka secara ekonomis lebih baik untuk menghapus piutang tersebut daripada terus berusaha menagih.

Dua Metode Pencatatan Piutang Tak Tertagih

Dua Metode Pencatatan Piutang Tak Tertagih

Dalam akuntansi, ada dua metode yang digunakan untuk mencatat piutang tak tertagih yaitu metode penghapusan langsung atau direct write off method dan metode cadangan atau allowance method. Kedua metode ini memiliki perbedaan mendasar dalam cara mencatat dan waktu pengakuan kerugian.

Metode Penghapusan Langsung (Direct Write Off Method)

Metode penghapusan langsung adalah metode yang mencatat kerugian piutang pada saat piutang tersebut benar-benar dinyatakan tidak dapat ditagih. Perusahaan tidak membuat cadangan kerugian piutang di awal tetapi langsung menghapus piutang saat sudah pasti tidak tertagih.

Dalam metode ini, saat piutang dinyatakan macet, perusahaan akan mendebit akun Beban Piutang Tak Tertagih dan mengkredit akun Piutang Usaha. Kerugian langsung diakui pada periode saat piutang dihapus tanpa ada cadangan sebelumnya.

Metode ini sederhana dan mudah diterapkan karena tidak perlu membuat estimasi cadangan kerugian. Namun, metode ini tidak sesuai dengan prinsip matching karena kerugian piutang dicatat di periode yang berbeda dengan periode saat penjualan kredit dilakukan. Metode ini cocok untuk perusahaan kecil yang memiliki nilai piutang tak tertagih yang tidak material atau masih dalam tahap awal pengelolaan keuangan.

Metode Cadangan (Allowance Method)

Metode cadangan adalah metode yang membuat estimasi kerugian piutang di awal periode berdasarkan pengalaman masa lalu atau persentase dari penjualan kredit. Perusahaan mencatat cadangan kerugian piutang sebelum piutang benar-benar dihapus sehingga kerugian diakui lebih awal.

Dalam metode ini, perusahaan akan membuat jurnal penyesuaian di akhir periode dengan mendebit akun Beban Kerugian Piutang dan mengkredit akun Cadangan Kerugian Piutang. Saat piutang benar-benar dihapus, perusahaan akan mendebit Cadangan Kerugian Piutang dan mengkredit Piutang Usaha.

Metode ini sesuai dengan prinsip matching karena beban kerugian piutang dicatat pada periode yang sama dengan periode saat penjualan kredit dilakukan. Metode ini juga membuat nilai piutang di neraca lebih realistis karena sudah dikurangi dengan cadangan kerugian. Metode ini sangat dianjurkan untuk perusahaan yang sudah berkembang dan memiliki nilai piutang tak tertagih yang material atau signifikan.

Langkah Mencatat Piutang Tak Tertagih dengan Metode Langsung

Berikut langkah-langkah mencatat piutang tak tertagih menggunakan metode penghapusan langsung lengkap dengan contoh jurnal.

Langkah 1: Identifikasi Piutang yang Tidak Tertagih

Tentukan piutang mana yang sudah dinyatakan tidak dapat ditagih berdasarkan kriteria manajemen piutang yang telah ditetapkan. Pastikan Anda memiliki bukti yang cukup seperti surat pernyataan kebangkrutan, bukti upaya penagihan yang gagal, atau dokumen lain yang mendukung.

Langkah 2: Catat Penghapusan Piutang

Buat jurnal penghapusan piutang dengan mendebit akun Beban Piutang Tak Tertagih dan mengkredit akun Piutang Usaha sebesar nilai piutang yang dihapus.

Contoh kasus:

Pada tanggal 15 Maret 2025, PT Maju Sentosa memutuskan untuk menghapus piutang kepada Toko Berkah sebesar Rp 5.000.000 karena pelanggan tersebut dinyatakan pailit dan tidak dapat membayar.

Jurnal penghapusan piutang:

AkunDebitKredit
Beban Piutang Tak Tertagih5.000.000 
     Piutang Usaha – Toko Berkah 5.000.000

Dengan jurnal ini, piutang kepada Toko Berkah sebesar Rp 5.000.000 dihapus dari pembukuan dan dicatat sebagai beban pada periode berjalan.

Langkah 3: Update Buku Besar Piutang

Pastikan buku besar piutang usaha diupdate untuk menghapus piutang Toko Berkah. Saldo piutang usaha akan berkurang sebesar Rp 5.000.000 dan beban piutang tak tertagih akan bertambah di laporan laba rugi.

Langkah 4: Dokumentasikan Alasan Penghapusan

Simpan dokumen pendukung yang menjelaskan mengapa piutang tersebut dihapus seperti surat pernyataan pailit, bukti upaya penagihan, atau keputusan manajemen. Dokumentasi ini penting untuk audit dan keperluan pajak.

Langkah Mencatat Piutang Tak Tertagih dengan Metode Cadangan

Berikut langkah-langkah mencatat piutang tak tertagih menggunakan metode cadangan lengkap dengan contoh jurnal.

Langkah 1: Estimasi Cadangan Kerugian Piutang di Akhir Periode

Pada akhir periode akuntansi, estimasi berapa besar piutang yang kemungkinan tidak akan tertagih. Estimasi ini dapat berdasarkan persentase dari penjualan kredit atau berdasarkan analisis umur piutang.

Contoh kasus:

PT Sentosa Jaya pada tanggal 31 Desember 2025 melakukan estimasi cadangan kerugian piutang berdasarkan analisis umur piutang dan memperkirakan kerugian sebesar Rp 8.000.000.

Jurnal penyesuaian untuk mencatat estimasi cadangan:

AkunDebitKredit
Beban Kerugian Piutang8.000.000 
     Cadangan Kerugian Piutang 8.000.000

Dengan jurnal ini, perusahaan mencatat beban kerugian piutang sebesar Rp 8.000.000 di laporan laba rugi dan membentuk cadangan kerugian piutang di neraca sebagai pengurang nilai piutang usaha.

Langkah 2: Catat Penghapusan Piutang Saat Benar-Benar Macet

Saat piutang benar-benar dinyatakan tidak tertagih, catat penghapusan dengan mendebit Cadangan Kerugian Piutang dan mengkredit Piutang Usaha. Perhatikan bahwa pada langkah ini tidak ada beban yang dicatat karena beban sudah dicatat saat membuat cadangan.

Contoh kasus:

Pada tanggal 20 Februari 2026, PT Sentosa Jaya memutuskan untuk menghapus piutang kepada Toko Makmur sebesar Rp 3.500.000 karena pelanggan tersebut bangkrut.

Jurnal penghapusan piutang:

AkunDebitKredit
Cadangan Kerugian Piutang3.500.000 
     Piutang Usaha – Toko Makmur 3.500.000

Dengan jurnal ini, piutang kepada Toko Makmur dihapus dan cadangan kerugian piutang berkurang. Tidak ada beban tambahan yang dicatat karena beban sudah diakui saat membuat cadangan.

Langkah 3: Evaluasi Kecukupan Cadangan di Akhir Periode Berikutnya

Pada akhir periode berikutnya, evaluasi kembali apakah saldo cadangan kerugian piutang masih cukup atau perlu disesuaikan. Jika penghapusan aktual lebih besar dari cadangan yang ada, buat jurnal penyesuaian untuk menambah cadangan. Jika lebih kecil, cadangan dapat dikurangi.

Pencatatan Jika Piutang yang Sudah Dihapus Ternyata Dibayar Kembali

Pencatatan Jika Piutang yang Sudah Dihapus Ternyata Dibayar Kembali

Kadang kala, piutang yang sudah dihapus ternyata dibayar kembali oleh pelanggan. Dalam kondisi ini, perusahaan perlu membuat jurnal untuk memulihkan piutang tersebut dan mencatat penerimaan kas.

Pemulihan Piutang dengan Metode Langsung

Jika piutang yang sudah dihapus dengan metode langsung ternyata dibayar kembali, buat dua jurnal yaitu jurnal untuk membalik penghapusan dan jurnal untuk mencatat penerimaan kas.

Contoh kasus:

Pada tanggal 10 Juni 2025, Toko Berkah yang piutangnya sudah dihapus pada 15 Maret 2025 sebesar Rp 5.000.000 ternyata membayar kembali seluruh utangnya.

Jurnal pemulihan piutang:

AkunDebitKredit
Piutang Usaha – Toko Berkah5.000.000 
     Beban Piutang Tak Tertagih 5.000.000

Jurnal penerimaan kas:

AkunDebitKredit
Kas5.000.000 
     Piutang Usaha – Toko Berkah 5.000.000

Dengan dua jurnal ini, piutang yang sudah dihapus dikembalikan ke pembukuan dan kemudian dihapus lagi saat kas diterima. Beban piutang tak tertagih yang sudah dicatat sebelumnya menjadi berkurang.

Pemulihan Piutang dengan Metode Cadangan

Jika piutang yang sudah dihapus dengan metode cadangan ternyata dibayar kembali, buat dua jurnal yaitu jurnal untuk membalik penghapusan dan jurnal untuk mencatat penerimaan kas.

Contoh kasus:

Pada tanggal 5 Agustus 2026, Toko Makmur yang piutangnya sudah dihapus pada 20 Februari 2026 sebesar Rp 3.500.000 ternyata membayar kembali seluruh utangnya.

Jurnal pemulihan piutang:

AkunDebitKredit
Piutang Usaha – Toko Makmur3.500.000 
     Cadangan Kerugian Piutang 3.500.000

Jurnal penerimaan kas:

AkunDebitKredit
Kas3.500.000 
     Piutang Usaha – Toko Makmur 3.500.000

Dengan dua jurnal ini, piutang yang sudah dihapus dikembalikan ke pembukuan dan cadangan kerugian piutang bertambah kembali karena kerugian yang diperkirakan tidak jadi terjadi.

Perbandingan Metode Langsung dan Metode Cadangan

Berikut perbandingan antara metode penghapusan langsung dan metode cadangan untuk membantu Anda memahami perbedaan keduanya dan memilih metode yang paling sesuai.

AspekMetode LangsungMetode Cadangan
Waktu PengakuanSaat piutang dihapusDi awal periode (estimasi)
Prinsip MatchingTidak sesuaiSesuai
Nilai Piutang NeracaBisa overstatementLebih realistis
KompleksitasSederhanaLebih kompleks
Cocok UntukPerusahaan kecilPerusahaan berkembang

Kapan Menggunakan Metode Langsung atau Metode Cadangan

Pemilihan metode tergantung pada besarnya nilai piutang tak tertagih dan persyaratan standar akuntansi yang berlaku.

Gunakan Metode Langsung Jika

Nilai piutang tak tertagih sangat kecil dan tidak material terhadap laporan keuangan. Perusahaan Anda masih berskala kecil dengan sistem akuntansi sederhana. Tidak ada persyaratan dari standar akuntansi atau pihak eksternal untuk menggunakan metode cadangan. Biaya dan waktu untuk membuat estimasi cadangan tidak sebanding dengan manfaatnya.

Gunakan Metode Cadangan Jika

Nilai piutang tak tertagih cukup besar dan material terhadap laporan keuangan. Perusahaan Anda sudah berkembang dan memerlukan laporan keuangan yang lebih akurat. Perusahaan memiliki data historis yang cukup untuk membuat estimasi cadangan yang akurat. Laporan keuangan digunakan untuk keperluan eksternal seperti audit, perbankan, atau investor yang memerlukan laporan yang sesuai dengan standar.

Kesimpulan

Cara mencatat piutang tak tertagih dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode penghapusan langsung dan metode cadangan. Metode langsung mencatat kerugian saat piutang benar-benar dihapus sedangkan metode cadangan mencatat kerugian di awal periode berdasarkan estimasi.

Metode cadangan lebih dianjurkan karena sesuai dengan prinsip matching dan membuat nilai piutang di neraca lebih realistis. Namun, untuk perusahaan kecil dengan nilai piutang tak tertagih yang tidak material, metode langsung dapat digunakan karena lebih sederhana dan praktis.

Pemilihan metode harus disesuaikan dengan skala perusahaan Anda, besarnya nilai piutang tak tertagih, persyaratan standar akuntansi, dan kebutuhan pelaporan keuangan. Yang terpenting adalah konsistensi dalam menerapkan metode yang dipilih dan dokumentasi yang lengkap untuk setiap penghapusan piutang.

Balancio Indo siap membantu menetapkan metode pencatatan piutang tak tertagih yang tepat, membuat estimasi cadangan kerugian piutang yang akurat, menyusun jurnal penyesuaian, dan memastikan pencatatan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Hubungi Balancio Indo untuk solusi akuntansi piutang yang profesional dan terukur.

Leave A Comment

Subscribe for insights that help you make sharper, smarter decisions.

Great Business Starts with Financial Clarity